Kenalan Sama Tiga Atlet ASIAN Para Games: Dengan Disabilitas Mereka Masih Mampu Berkarya!

ASIAN Para Games adalah ajang kompetisi olahraga terbesar tingkat ASIA untuk para penyandang disabilitas. Sejarah berdirinya Asian Para Games dimulai dari FESPIC Games (Far East and South Pacific Games for the Disabled), sebuah kompetisi olahraga bagi atlet difabel yang pertama kali digelar pada 1975 di Oita, Jepang, yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan penyandang disabilitas melalui partisipasi dalam ajang olahraga, memperdalam nilai pengertian dan persahabatan antar-penyandang disabilitas, dan mendukung rehabilitasi bagi penyandang disabilitas melalui aktivitas olahraga.

Referensi Article: http://anekajerseybola.com/asian-para-games-2018-difabel-adalah-kekurangan-yang-sempurna/

Namun pada tahun 2006, FESPIC dihapuskan hingga kemudian Asian Paralympic Committee mengambil alih sebagai organisasi penyelenggara Asian Para Games. Asian Para Games pertama kali dilaksanakan di Cina. Dan pada tahun 2018 ini, Indonesia yang menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Para Games 2018. Pada penyelenggaraan Asian Para Games 2018 tahun 2018 ini sudah banyak sponsor yang bekerja sama dan berpartisipasi untuk membantu kesuksesan acara. Ada tujuh sponsor resmi terbesar Asian Para Games 2018 yakni Bukapalak, BRI, Allianz, Bank Mandiri, PT PLN (Persero), PT Transjakarta, dan Sariayu.

Untuk menyambut ajang olahraga terbesar untuk para penyandang disabilitas (difabel) di tingkat Asia ini, atlet-atlet difabel asal Indonesia sudah banyak berlatih untuk meraih kemenangan pada ajang kompetisi ini. Di antara banyaknya atlet Asian Para Games 2018, ada tiga atlet Asian Para Games yang sangat menginspirasi melalui kisah dan perjuangannya sebagai atlet difabel. Atlet-atlet tersebut yaitu Laura Dinda, Jaenal Aripin, dan Riadi Saputra. Penasaran dengan kisah perjuangan mereka? Simak kisahnya berikut ini.

Ini dia 3 Atlet Asian Para Games Yang Perjuangannya Sangat Menginspirasi

  • Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti

atlet renang asian para games 2018

Laura Aurelia Dinda Sekar Devanti adalah atlet renang difabel yang sekaligus mahasiswa psikologi UGM. Gadis kelahiran Pekanbaru, 22 September 1999 ini awalnya bukan seorang difabel karena terlahir dalam kondisi fisik yang sempurna. Namun suatu ketika, saat Laura mengikuti POPDA [Pekan Olahraga Pelajar Daerah] di Semarang, Laura terpeleset dan terjatuh. Akibat dari peristiwa tersebut, tulang punggung Laura remuk dan tidak dapat diselamatkan lewat operasi karena sudah terlambat. Fungsi tubuh bagian bawah yang semakin menurun menyebabkan Laura menggunakan kursi roda untuk berjalan. Meskipun sempat putus asa dengan kondisinya, namun ternyata berkat dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat, Laura kini menjadi atlet difabel yang berprestasi. Selama tiga tahun menjadi atlet, Laura berhasil menyabet dua medali emas pada ASEAN Para Games 2017 di Kuala Lumpur dan menggondol 2 medali emas dan 1 medali perak dari kelas S9 di tahun 2016 saat Pekan Paralympic Nasional (Peparnas) XV 2016. Baru-baru ini, Laura sukses meraih 4 medali dari World Para Swiming Championship di Berlin pada 7-10 Juni 2018. Ia mendapatkan 2 medali emas dari nomor 50 meter gaya kupu-kupu putri dengan catatan waktu 44,84 detik dan 50 meter gaya punggung putri dengan waktu 42,81 detik. Ditambah lagi, ia juga meraih 1 medali perak dari nomor 50 meter gaya bebas putri dengan waktu 40,08 detik dan 1 medali perunggu dari nomor 200 meter gaya bebas putri dengan waktu 3 menit 02,71 detik.

  • Jaenal Aripin

Atlet balap kursi roda Para Atletik Indonesia Jaenal Aripin

Selain Laura, atlet Asian Para Games 2018 ini juga pada awalnya terlahir dengan fisik sempurna. Namun sayangnya, kecelakaan motor tragis pada tahun 2006 menyebabkan kedua kakinya harus diamputasi. Jaenal Aripin yang dulu seorang karyawan pabrik harus menerima kenyataan bahwa dirinya tidak bisa melakukan aktivitas normal seperti biasa dengan kedua kakinya. Namun pertemuannya dengan dunia atletik seakan mengubah hidupnya. Setelah terpuruk cukup lama, Jaenal perlahan mampu bangkit dari keterpurukan dengan menekuni dunia atletik yakni balap kursi roda. Setelah tiga tahun berlatih, pria kelahiran Sumedang ini mampu tampil di panggung dunia dengan berlaga di ASEAN Para Games di Kuala Lumpur di tiga nomor 100 meter, 200 meter, dan 400 meter. Akhirnya ia pulang dengan membawa dua medali perak dan satu perunggu di lehernya. Prestasi terbaru yang diraih oleh Jaenal yakni meraih medali emas Kejuaraan Dunia 2018 di China untuk nomor 100 meter. Fakta yang membanggakan lagi, ternyata Jaenal menempati peringkat 10 besar dunia untuk nomor 100 meter T54 dan 200 meter T54.

  • Riadi Saputra

Atlet Paralympic Lempar Cakram asal Sumut Riadi Saputra

Pria asal Binjai yang lahir pada 9 Februari 1981 ini berprofesi sebagai penjahit. Namun pada tahun 2002, ia diajak untuk menggeluti olahraga bagi para difabel. Ia pun tertarik mencoba dan giat berlatih meskipun pada awalnya ia sempat putus asa karena latihan yang dijalani cukup berat. Namun bermodal tekad yang kuat dan keinginannya untuk mengangkat derajat para penyandang disabilitas ia pun terus berupaya meningkatkan kemampuan. Bukti kerja kerasnya terlihat pada ajang ASEAN Paralympic Games 2011 di mana ia berhasil meraih 1 medali emas dari nomor lempar cakram. Kemudian pada ajang ASEAN Paralympic Games tahun 2013 di Myanmar, Riadi berhasil meraih 1 emas nomor lempar cakram, 1 perak tolak peluru, dan 1 perunggu lempar lembing.

Ternyata kondisi disabilitas tidak membuat para atlet Asian Para Games kehilangan semangat, namun justru semakin bertekad untuk berprestasi dan mengharumkan nama bangsa. Semoga para atlet Asian Para Games Indonesia berhasil membawa kemenangan dan acara Asian Para Games 2018 yang salah satunya disponsori oleh Bukalapak ini sukses ya!

klik disini untuk mendapatkan info menarik lainnya seputar asian para games

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *